Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Kanker Usus Besar

Buah Sirsak Pembunuh Sel Kanker Paling Efektif

Buah Sirsak sebagai obat Kanker 10.000x Lipat Lebih Aman Dari Terapi Kemoterapi Selama ini kita tahu bahwa kanker hanya bisa diobati dengan terapi kemo. Namun tampaknya persepsi ini harus dihapus dan dibuang sejauh-jauhnya. Kenapa? Karena sebenarnya ada obat alami untuk membunuh sel kanker yang kekuatannya 10.000x lebih ampuh dibanding terapi kemo. Obat alami ini adalah buah Sirsak yang familiar dengan orang Indonesia, di Brazil dinamai "Graviola", di Spanyol "Guanabana" bahasa Inggrisnya "Soursop". Jus Sirsak Pemembunuh Sel Kanker Ciri-ciri pohon ini adalah Pohonnya rendah; Buahnya berduri lunak; Daging buah berwarna putih, Rasanya manis-manis kecut/asam, dimakan dengan cara membuka kulitnya atau di buat jus. Khasiat dari buah sirsak ini memberikan effek anti tumor/kanker yang sangat kuat, dan terbukti secara medis menyembuhkan segala jenis kanker. Selain menyembuhkan kanker, buah sirsak juga berfungsi sebagai anti bakteri, anti jamur (fungi)...

Jenis-jenis Makanan Pemicu Kanker Usus Besar

Apakah Anda sering memperhatikan pola makan? Seberapa sering makanan instan, makanan dari dalam kaleng, hingga makanan cepat saji masuk dalam perut Anda?. Kalau Anda jarang peduli dengan komposisi diet Anda, mungkin ini saat yang tepat untuk mengubah pola makan. Aru Sudoyo, spesialis penyakit dalam sekaligus konsultan hematologi dan onkologi medik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengatakan pemicu kanker usus besar datang dari pengaruh lingkungan. ''Sebanyak 85 persen lingkungan, 15 persen keturunan,'' kata dia. Artinya, kebiasaan makan lebih memengaruhi terjadinya penyakit ini ketimbang adanya riwayat keluarga yang mengidap kanker. Kebiasaan menyantap makanan yang dimasak dalam suhu terlalu tinggi memicu terjadinya kanker ini. Contohnya ialah kentang goreng . ''Begitu juga membakar dan merebus pada suhu tinggi,'' kata dia. Sedangkan hobi memakan daging yang tinggi lemak dapat mengakibatkan tingginya asam empedu hingga mengiritasi usus. ...

4 Terapi Obati Kanker Kolorektal (Kanker Usus Besar)

Dengan pola makan yang baik, yaitu mengonsumsi makanan tinggi serat dan tinggi protein, mengurangi konsumsi daging merah dan lemak jenuh yang berasal dari hewani. Anda bisa memperkecil risiko terjangkit kanker kolorektal. Melakukan olahraga secara rutin, dan menggunakan obat-obat chemoprevention seperti Aspirin dan golongan obat-obat anti-inflamasi non-steroid, juga merupakan langkah pencegahan kanker kolorektal. Seperti telah diberitakan okezone sebelumnya, kanker kolorektal adalah kanker yang tumbuh pada usus besar (kolon) atau rektum. Kebanyakan kanker usus besar berawal dari pertumbuhan sel yang tidak ganas atau disebut adenoma, yang pada awalnya membentuk polip. Polip dapat diangkat dengan mudah namun sering kali adenoma tidak menampakkan gejala apapun, sehingga tidak terdeteksi dalam waktu yang relatif lama dan pada kondisi tertentu berpotensi menjadi kanker yang dapat terjadi pada semua bagian dari usus besar. Kanker kolorektal ini dapat menyebar keluar jaringan usus besar d...

Pascaoperasi Kanker Usus Besar, Perlu Perawatan Lanjutan

SETIAP pasien kanker usus besar yang telah menjalani operasi hendaknya meneruskan perawatan lanjutan, guna memastikan kanker telah hilang. Nyatanya, banyak pasien kanker usus besar yang lalai meneruskan perawatan lanjutan pascaoperasi. Setidaknya itulah kesimpulan hasil studi yang dilakukan di Amerika, baru-baru ini. Banyak pasien kanker usus besar yang pascatindakan bedah tidak mendapat skrining sesuai panduan yang direkomendasikan. Penelitian yang dilakukan tim peneliti dari University Hospitals Case Medical Center di Cleveland tersebut melibatkan partisipan sebanyak 4.426 pasien kanker usus stadium dini yang masih bisa disembuhkan dengan pembedahan atau operasi. Dari sejumlah partisipan yang telah menjalani operasi kanker tersebut, tercatat hanya sekitar 40 persen yang mendapat paket perawatan lanjutan yang direkomendasikan seperti pemeriksaan rutin oleh dokter, tes darah, dan prosedur colonoscopy dalam tiga tahun pascabedah kanker.

Waspadai Kanker Kolorektal

KANKER adalah penyakit pertumbuhan sel yang bersifat ganas dan bisa mengenai organ apa saja. Bisa menyerang kolon, rektum atau keduanya. Usus besar adalah bagian dari sistem pencernaan. Sebagaimana kita ketahui sistem pencernaan dimulai dari mulut, lalu kerongkongan (esofagus), lambung, usus halus (duodenum, yeyunum, ileum), usus besar (kolon), rektum dan berakhir di dubur. Menurut Dr Adil Pasaribu Sp B KBD, ahli kanker dari Rumah Sakit Dharmais, usus besar terdiri dari kolon dan rektum. Kolon atau usus besar adalah bagian usus sesudah usus halus, terdiri dari kolon sebelah kanan (kolon asenden), kolon sebelah tengah atas (kolon transversum) dan kolon sebelah kiri (kolon desenden). Setelah kolon, barulah rektum yang merupakan saluran di atas dubur. Bagian kolon yang berhubungan dengan usus halus disebut caecum, sedangkan bagian kolon yang berhubungan dengan rektum disebut kolon sigmoid.

Kegemukan Tingkatkan Risiko Kanker

JANGAN sampai Anda mengalami obesitas atau kegemukan. Berdasarkan penelitian, obesitas bisa meningkatkan risiko penyakit kanker. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet ini menggunakan analisis 141 studi, yang melibatkan 282.000 responden yang mengalami kegemukan. Ukuran kegemukan dalam penelitian itu dengan indikator indeks masa tubuh (body mass index/ BMI), yakni berat badan seseorang dalam kilogram diperbandingkan dengan tinggi badannya. Seseorang dengan BMI 25-29,9 dikategorikan sebagai kelebihan berat badan, sedangkan BMI 30 dan lebih dikategorikan sebagai obesitas. Para peneliti menemukan bahwa setiap pencapaian BMI sebesar lima poin pada pria meningkatkan risiko kanker tenggorokkan 52 persen, kanker tiroid (terkait dengan kelenjar gondok) sebesar 33 persen, serta kanker usus besar dan ginjal sebesar 24 persen. Di antara wanita, apabila BMI-nya meningkat lima poin maka meningkatkan risiko kanker rahim sebesar 59 persen, kanker hati (59 persen), tenggoroka...

Aspirin Kurangi Risiko Kanker Usus Besar

ASPIRIN ternyata terbukti dapat mengurangi risiko terkena kanker usus besar. Menurut penelitian terbaru di Skotlandia, penurunan risikonya mencapai 22 persen jika mengonsumsi obat penghilang rasa sakit itu secara teratur. Siapa yang tidak mengenal aspirin atau asam asetilsalisilat (asetosal). Obat yang satu ini sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu dan sering digunakan sebagai analgesik (obat mengatasi rasa sakit atau nyeri minor), antipiretik (obat demam), dan anti-inflamasi atau peradangan. Selain berkhasiat mengobati beragam gejala dan penyakit, manfaat aspirin juga terus berkembang seiring dengan gencarnya penelitian para ilmuwan. Penelitian terbaru menunjukkan, mengonsumsi aspirin dengan dosis rendah setiap hari terbukti dapat mengurangi seseorang terkena risiko kanker usus besar atau biasa juga disebut kanker kolorektal. Sebenarnya, studi sebelumnya telah menemukan fakta bahwa aspirin dengan dosis besar dapat mengurangi risiko kanker usus besar. Tetapi penelitian ini yang p...

Waspadai Kanker Usus Besar

PELAN tapi pasti, jumlah penderita kanker usus di dunia terus merangkak naik. Gaya hidup dan lingkungan tak sehat disinyalir menjadi penyebab utama penyakit ini. Hingga kini, kanker seolah masih menjadi misteri di dunia kedokteran. Beberapa kanker malah masih belum diketahui penyebabnya. Namun, tidak demikian dengan kanker kolorektal atau yang populer disebut kanker kolon atau usus. Kanker jenis ini diketahui disebabkan oleh gaya hidup dan lingkungan yang tak sehat. Kanker ini juga paling mudah menyerang di antara jenis kanker lainnya. Tak heran bila jumlah penderitanya terus merangkak naik. Bahkan, kanker ini juga menjadi momok di negara-negara maju. ”Kanker kolorektal adalah kanker dengan keganasan kedua tertinggi di negara-negara maju,” ucap dokter spesialis penyakit dalam (internis) sekaligus konsultan kanker, Dr Ronald Hukom SpPD KHOM.

Kanker Usus Besar, Hindari dengan Deteksi Dini

KANKER kolorektal menjadi salah satu penyakit yang perjalanannya lambat. Diperkirakan butuh waktu untuk terbentuknya kanker kolorektal itu adalah 15 hingga 20 tahun. “Apabila seseorang terekspos dalam waktu lama dan tidak melakukan hal-hal yang melindungi, seperti mencegah, hindari rokok, tidak makan berlebihan, olahraga, dan sebagainya, maka jadilah kanker,” tandas ahli kanker dari Yayasan Kanker Indonesia (YKI), DR dr Aru Wisaksono Sudono SpPD KHOM. Dijelaskan Aru, hampir sama dengan kanker yang lain, kanker kolorektal memerlukan waktu yang lama untuk berkembang, sekitar 10 hingga 25 tahun. Hal itu disebabkan oleh sebuah pertumbuhan yang tidak terkendali akibat pajanan (exposure) bahan-bahan karsinogenik di lingkungan. Dalam keadaan awalnya akan di ”koreksi” atau di ”eliminasi” oleh sistem surveilans dan “repair” tubuh. Bila sel tubuh terkena terus menerus, biasanya dalam jangka waktu lama, maka lama-kelamaan badan akan kalah dan kerusakan dengan pertumbuhan “ngaco” itu akan meraj...